Sabtu, 03 Juli 2010

Piala Dunia: Antara Konspirasi dan Sportifitas Olahraga

Diskusi Akbar Nasional
Kajian Zionisme Internasional (KaZI)

Medio tahun 2010 ini jutaan pemirsa dan penggemar sepakbola di seluruh penjuru dunia akan dimanjakan dengan tayangan spesial kesayangan mereka yaitu Piala Dunia 2010 yang rencananya akan digelar di Afrika Selatan. Ajang pertandingan sepakbola paling bergengsi di dunia ini akan berlangsung dari tanggal 11 Juni hingga 11 Juli 2010 mendatang. Setiap negara akan menampilkan tim terbaik mereka dengan harapan dapat mengharumkan nama negara masing-masing.

Ajang Piala Dunia adalah ladang bisnis luar biasa besarnya dengan keuntungan yang juga luar biasa besar. Terlebih bagi negara tuan rumah, hajatan akbar ini akan menghasilkan devisa negara melimpah dari perusahaan-perusahaan sponsor tingkat dunia, pariwisata, layanan jasa transportasi dan lain-lain. Namun, di balik gemerlapnya lampu-lampu stadion dan riuh-rendahnya sorak-sorai penonton, ada sisi-sisi kelam Piala Dunia khususnya dan Dunia Perspakbolaan pada umumnya, yang tak kasat mata atau minimal tak disadari oleh khalayak pemirsa. Mulai dari kepentingan Zionisme-Yahudi dan hegemoninya di ranah kapitalisme global yang berselindung di balik sponsor, hingga infiltrasi ideologi Kabbalah-satanisme. Ideologi sesat pemuja kesesatan dan materialisme-hedonistis dengan berbagai derivasinya, secara perlahan dan halus merambati jalan fikiran jutaan pemirsa dan menghujani alam bawah sadar kita dengan simbol-simbol paganistis mereka.

Sebagian kaum muslimin, tentunya akan sejenak melupakan Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam, yang kini semakin merapuh di ambang kehancuran akibat ulah orang-orang Zionis-Yahudi. Sebagian kaum muslimin juga akan sejenak melupakan berbagai persoalan kronis yang menelikung bangsa ini, mulai dari kasus korupsi, gerakan aliran-aliran sesat yang terus diback-up mati-matian oleh kalangan sekuler-liberal dan lain-lain. Ada sebuah kekuatan besar yang mengarahkan mata, telinga, bahkan hati dan pikiran kita untuk terus mengikuti kemana si kulit bundar itu menggelinding, namun di saat yang sama, kita akan mengabaikan penderitaan kaum muslimin di belahan bumi lainnya atau bahkan di depan pintu rumah kita sendiri.

Sepakbola kini telah menjadi semacam “religion” (Hamid Fahmi Zarkasyi, Agama, www.hidayatullah.com, 11 Agustus 2008), pseudo-agama yang diam-diam menggusur iman kepada Allah dan menggantikannya dengan kesenangan yang adiktif belaka. Kesetiaan para pendukung fanatik tim sepakbola dan kecintaan kepada bintang lapangan yang menjadi idola, telah melahirkan personal disorder hingga tahap melukai diri sendiri ataupun orang lain. Ada sebersit kebahagiaan ketika tim pujaan memenangkan laga pertandingan, dan kecewa mendalam ketika mereka kalah di lapangan. Kebahagiaan dan kekecewaan yang mampu mengendalikan hasrat dan fikiran sang fanatik melebihi pengaruh keyakinan agama terhadap dirinya sendiri. Ini salah satu realita yang tersembunyi di balik warna-warni sepakbola dunia. Maka tidaklah berlebihan jika di sebuah jalan di Manchester, Inggris, sebuah papan iklan besar milik Manchester United menampilkan gambar seorang pemain dengan tulisan di bawahnya, It’s like religion.

Piala Dunia adalah saudara kembar arus globalisasi yang semakin membuat dunia kita menjadi kecil (small village). Dalam globalisasi, individu-individu dengan keunikan latar-belakang masing-masing seakan lebur dalam satu kesatuan yang berskala global. Mereka seakan tercerabut dari keaslian jatidirinya dan memilih untuk menjadi pribadi “yang lain” agar terterima dalam pergaulan dunia yang (katanya) lebih modern, humanis dan egaliter. Namun, tidak pula disadari bahwa internalisasi nilai-nilai “the other” (yang lain) secara intens, lambat laun namun pasti akan melahirkan pribadi-pribadi ambigu yang tak mampu bersikap kritis terhadap perubahan arus politik global maupun tantangan ideologis yang tak pernah henti menggerus pondasi aqidah seorang muslim.

Atas dasar pemikiran inilah, maka sebuah diskusi yang mengkaji event Piala Dunia 2010 menjadi penting, bukan saja untuk melahirkan kritisisme kita dalam menyikapinya, akan tetapi juga membentengi kemurnian aqidah dan ghirah Islamiyah dari infiltrasi ideologi satanis yang menyelusup diam-diam. Wallahu a’lam.

Ttd.
Panitia Pelaksana
Diskusi Akbar Nasional 2010
Kajian Zionisme Internasional (KaZI)

Jumat, 02 Juli 2010

Dan di Langit Terdapat Rezeki yang Telah Dijanjikan


Mengapa hidup di Jakarta hujan sudah dicitrakan sebagai penyebab musibah tahunan? Mungkin perilaku kita ada yang salah
Oleh: Muhaimin Iqbal*

IBNU Katsir ketika mentafsirkan ayat yang saya jadikan judul tulisan ini (QS 51:22) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Dan di langit terdapat rezekimu…” adalah hujan yang membawa rezeki; sedangkan yang dimaksud dengan “Dan Apa yang dijanjikan kepadamu” adalah surga bagi orang-orang yang bertakwa.

Ibnu Katsir yang kitab tafsirnya menjadi rujukan umat seluruh dunia karena kedalaman ilmunya; insy Allah jauh lebih besar peluang benarnya ketimbang kelirunya. Lantas mengapa bagi kita yang hidup di Jakarta ini, hujan secara perlahan tetapi pasti dicitrakan sebagai penyebab musibah tahunan yang hari-hari ini melanda, yaitu banjir? Pasti yang salah bukan ayat atau tafsirnya, tetapi perilaku kita yang salah dalam mengelola ‘potensi’ rezeki dari hujan ini.

Pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengembalikan pandangan bahwa hujan sebagai sumber rezeki – agar kita pandai mengelola dan mensyukuri-nya; bukan sebaliknya memandang hujan sebagai sumber musibah sehingga banyak orang berharap agar hujan tidak turun!

Sesungguhnya kita sangat-sangat beruntung hidup di negeri kepulauan yang berada paling dekat dengan katulistiwa. Negeri yang berada di Equator Belt ini hanya Indonesia, termasuk beberapa negara Amerika latin, khususnya Brasil dan beberapa negara Afrika. Tetapi Afrika sangat kering, dan Brasil tidak terlalu banyak memiliki wilayah laut seperti kita di Indonesia.

Dengan posisi yang seperti inilah, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak memiliki hujan. Dampak dari hujan tropis ini berikutnya adalah di Indonesia-lah terdapat paling banyak spesies tumbuhan, binatang, dan microorganism yang kemudian dikenal sebagai biodiversity.

Karena posisi yang unik ini pulalah ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan tahun ini sebagai 2010 International Year of Biodiversity, Indonesia menjadi salah satu pusat perayaannya, yaitu di Bali mulai akhir pekan ini.

Sejalan dengan tafsir di atas, kemudian juga bukti kekayaan biodiversity yang tidak ada duanya tersebut, masihkah kita belum bisa melihat rezeki dari langit yang dibawa oleh hujan itu? Kalau melihat saja kita belum bisa, tentu kita akan kesulitan untuk memiliki visi pengelolaannya.

Untuk belajar menangkap secara harfiah ‘rezeki dari langit’ yang terbawa oleh hujan ini, tim kami di Pesantren Wirausaha – Jonggol membuat eksperimen kecil dalam laboratorium sederhana untuk pembibitan Jamur.

Jamur adalah sumber protein yang sehat dan bisa diproduksi dari ‘awang-awang’. Karena untuk menghasilkan 10 kg jamur per hari selama 4-5 bulan berturut-turut, awalnya hanya dibutuhkan jaringan yang diambil dari jamur induk sebesar ujung jarum.

Untuk bisa tumbuh baik, jamur pada umumnya memerlukan suhu udara antara 22 derajat C – 28 derajat C, dan kelembaban udara antara 60% - 70%. Suhu dan kelembahan yang dipersyaratkan untuk pertumbuhan jamur ini dengan mudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar wilayah negeri ini. Dari mana negeri ini memperoleh keberuntungan tersebut? Ya dari hujan yang secara kontinyu mengguyur sebagian besar wilayah negeri ini secara reguler.

Jadi secara internal negeri ini sesungguhnya sangat beruntung dengan rezeki yang terbawa seiring dengan seringnya turun hujan. Kita bisa membanjiri dunia dengan protein yang murah – yang bisa diproduksi secara massal di Indonesia.

Untuk memproduksi jamur secara massal ini tidak dibutuhkan tanah yang luas, tidak membutuhkan pupuk-pupuk yang mahal (yang sering diributkan subsidinya), dan tidak membutuhkan modal yang besar (yang hanya dimiliki para konglomerat dan tuan tanah). Yang kita butuhkan terutama adalah lingkungan dengan suhu dan kelembaban yang tepat yang sudah dianugerahkan oleh Allah secara melimpah melalui curah hujan negeri ini.

Yang kita butuhkan kemudian adalah ilmu perjamuran dan keterampilan wirausaha/manajemen yang memadai; namun lagi-lagi ilmu membuat benih jamur insya Allah tidak sesulit membuat roket. Anda bisa belajar bareng kami (kami juga lagi belajar soalnya) gratis. Memanage industri jamur saya yakin juga tidak sesulit mengelola bank yang di-bailout (yang kalau kita lihat di televisi nampaknya nggak ada yang bisa mengelola dengan benar!).

Jadi orang-orang kebanyakan seperti Anda dan saya insy Allah bisa memproduksi protein yang murah ini secara massal.

Bila ini benar-benar dapat kita lakukan, maka kebutuhan protein negeri ini akan dapat tercukupi dengan murah, dan syukur-syukur bisa menjadi solusi bagi milyaran penduduk dunia yang kini sedang kekurangan pangan dan gizi. Allaahumma shayyiban naafi’an; Ya Allah jadikanlah hujan ini manfaat…

Muak Kekerasan Israel, Jutawan Yahudi Bangun Masjid


Belum ada tanggapan dari ulama apakah ini termasuk masjid dhirar atau tidak?

Hidayatullah.com—Roberth Harush (58 tahun), pengusaha Yahudi yang dibesarkan di Ashkelon dikabarkan ikitb membangun masjid besar di Montereau, Prancis, dalam upaya dirinya untuk mempromosikan toleransi beragama.

Roberth adalah seorang penduduk Ashkelon yang menghasilkan banyak uang dalam bisnis real estat di Eropa. Ia memutuskan untuk membiayai secara penuh pembangunan sebuah masjid di Prancis untuk kepentingan komunitas muslim setempat.

Ayah empat anak ini juga besar di Ashkelon. Setelah menyelesaikan dinas militer mencoba keberuntungannya dalam bisnis real estate di Eropa. Keberhasilannya telah memenangi banyak tender pembangunan hotel dan gedung-gedung mewah yang diperkirakan bernilai ratusan juta dolar.

Meskipun sukses, Harush tidak lupa terhadap kampung halamannya dan telah kembali ke Ashkelon dan berinvestasi dalam usaha bisnis real estate lokal. Selama 10 tahun terakhir ia telah membagi waktunya antara Israel dan Prancis.

Pengusaha kaya ini bahkan memilih untuk tinggal di kota selatan selama Operasi Cast Lead. Dia tetap di Israel bahkan setelah roket Grad mendarat di dekat rumahnya.

Dia baru-baru ini didekati oleh Walikota Montereau, sebuah kota dekat Paris Prancis, yang memberitahukan adanya kesulitan dalam pembiayaan renovasi sebuah masjid besar di kota.

"Saya berkata pada diriku sendiri, di sinilah kesempatan untuk membawa orang bergabung bersama-sama dan saya memutuskan untuk menyumbangkan uang untuk pembangunan masjid tersebut," kata Harush.

"Orang-orang tercengang. Apa yang dilakukan orang Yahudi-Israel dengan membantu menyumbang membangun masjid? Jawabannya sederhana: Saya sudah muak dan lelah. Suara dari orang-orang yang waras harus muncul."

Harush menjelaskan bahwa ia membangun masjid dalam rangka untuk mempromosikan toleransi.

"Ini bukan usaha murah tapi saya lakukan dengan sepenuh hati."

Para pemimpin komunitas Muslim Montereau telah mengucapkan terima kasih kepada Harush atas bantuannya merenovasi masjid dan meminta supaya menjaga hubungan yang hangat dengan dia.

Pengusaha itu tidak hanya mendukung komunitas muslim di Prancis saja, ia juga telah membiaya pembangunan salah satu sinagog terbesar dan paling megah di Asheklon tahun lalu, bernama mendiang ayahnya.

"Saya sendiri bukan orang yang religius, tapi saya merasa bahwa harus ada langkah politis yang dilakukan pengusaha untuk membawa bersama-sama saling toleransi antara orang-orang Yahudi dan Arab, sekuler maupun relijius."

Belum ada tanggapan dari ulama-ulama Islam terkait pembangunan masjid yang dibiayai sepenuhnya oleh pengusaha Yahudi Israel ini. Apakah ini termasuk masjid dhirar dan bagaimana hukumnya shalat di dalam masjid tersebut? Itu mungkin akan jadi perdebatan panjang beberapa saat ke depan

Menetapi Al-Jamaah Sebagai Sarana Mewujudkan Rahmat

  • , (Author: Drs. Yakhsyallah Mansur, MA.)
  • “Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya:107).

    Ketika menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir di dalam tafsir “Al-Qur’an Al-Adzim” menukilkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, berkata: “Dikatakan, wahai Rasulullah, berdo’alah untuk (kesengsaraan) orang-orang musyrik”. Beliau menjawab,” Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, aku diutus hanyalah sebagai pembawa rahmat”.

    Sayid Quthb dalam tafsirnya “Fi Dzilalil Al-Qur’an” menulis: “Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi manusia seluruhnya untuk membimbing mereka kepada petunjuk-Nya dan tidak mendapat petunjuk kecuali orang yang bersedia menerimanya meskipun rahmat tersebut dapat dirasakan oleh orang yang beriman dan tidak beriman. Sesunggunhnya sistem yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sistem yang akan membahagiakan manusia seluruhnya dan menuntun mereka menuju kesempurnaan yang telah ditentukan dalam kehidupan ini.

    Ayat di atas merupakan petunjuk qoth’ie (pasti) tentang universalisme Islam dalam arti agama Islam itu diturunkan oleh Allah untuk ummat manusia di seluruh dunia sepanjang masa. Apabila syari’at Islam dilaksanakan maka akan terwujudlah rahmat secara universal baik bagi umat Islam sendiri maupun bagi umat yang lain.

    Pada millenium kedua menurut hitungan kalender masehi yang baru saja berlalu dan di awal era globalisasi (berasal dari kata globe yang berarti dunia mini) ini, di samping kita meyaksikan kemajuan pesat dalam berbagai bidang khususnya bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kita juga menyaksikan berbagai macam krisis yang melanda umat manusia. Peter L. Berger melukiskan manusia saat ini sedang mengalami “ANOMIE” yaitu sesuatu keadaan di mana setiap individu manusia kehilangan ikatan yang memberikan perasaan aman dan kemantapan dengan sesama manusia lainnya sehingga menyebabkan kehilangan pengertian yang memberikan petunjuk tentang dan arti kehidupan di dunia ini sehingga kegelisahan hidup timbul di mana-mana.

    Abu Al-Wafa’ Al-Taftadzani mengklasifikasikan sebab-sebab kegelisaan masyarakat modern sebagai berikut :
    1. Gelisah karena takut kehilangan apa yang dimiliki, seperti jabatan, pekerjaan, harta dan sebagainya. 2. Gelisah lantaran takut terhadap masa depan yang tidak disukai dan diinginkan. 3. Gelisah yang disebabkan olrh rasa kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan spiritual. 4. Kegelisaan yang disebabkan karena dirinya banyak melakukan pelanggaran dan dosa.

    Disamping krisis psikologis (kejiwaan) seperti di atas pada mellinium kedua yang lalu, manusia telah merasakan prahara yang sangat mengerikan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya yaitu terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) yang berdampak buruk bagi umat manusia dalam berbagai bidang kehidupan hingga saat ini. Di bidang politik berdampak munculnya dua negara super power Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang tinggal Amerika Serikat), timbulnya perang dingin antara negara-negara blok komunis di belakang Uni Soviet dan blok kafitalis di belakang Amerika Serikat, tampilnya negara baru di Asia, Afrika dan Eropa yang terus-menerus berperang sampai sekarang.

    Dampak di bidang ekonomi berupa kehancuran total perekonomian dunia akibat sistem perbankkan dan munculnya negara-negara kaya karena mengekploitasi negara-negara yang kalah perang sehingga negara-negara ini menjadi miskin dan terbelakang walaupun kaya dengan sumber-sumber alam. Dampak paling ironis dari Perang Dunia II adalah berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan mewujudkan perdamaian dunia tetapi realitanya justru banyak menciptakan persengketaan dunia dan digunakan oleh sebagian anggotanya yang memiliki hak veto terutama Amerika untuk menjadi polisi dunia dan melegalisasikan kebrutalannya terhadap negara-negara yang dianggap menghambat kepentingannya seperti Irak, Iran dan Sudan yang berpendudukan mayoritas muslim.

    Akibat Kaum Muslimin tidak Bersatu
    Terjadinya berbagai macam krisis dunia seperti di atas adalah akibat tidak adanya persatuan di kalangan kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melakukan apa yanng diperintahkan Allah itu (keharusan saling melindungi antara kaum muslmin) pasti akan terjadi kehancuran di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal:73)

    Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa orang kafir saling membantu dalam menghadapi kaum muslimin. Hal ini terus dilakukan sejak jaman dahulu sampai sekarang. Apabila kita buka lembaran sejarah Islam kita akan melihat bagaimana kafirin Makkah bersatu padu dengan orang-orang kafir Arab Ghathafan dan bersatu pula dengan Yahudi Bani Quraidzoh mengeroyok kaum muslimin pada Perang Ahzab di bulan Syawal tahun 5 H. Begitu pula pada Perang Salib dahulu, Paus Paulus VI memutuskan memberi ampun orang Yahudi, musuh bebuyutan mereka. Yang menuduh Nabi Isa Alaihissalam yang mereka akui sebagai Tuhan sebagai anak zina. Gereja memberi ampunan dosa kepada orang Yahudi supaya dapat bersatu memerangi Islam dan merebut Palestina dari kaum muslimin. Demikian juga pada kasus-kasus yang terjadi akhir-akhir ini seperti serangan pasukan Sekutu atas Iraq, pembersihan etnis muslim Bosnia di Perang Balkan sampai jajak pendapat di Timor Timur yang baru lalu serta konflik Ambon yang sampai ini masih berlangsung semuanya menunjukan betapa kokohnya persatuan orang-orang kafir dalam menghadapi umat Islam.

    Di tengah-tengah kokohnya persatuan orang-orang kafir untuk menggencet kaum muslimin ini, justru kaum muslimin berpecah-belah dan sebagian besar dilanda penyakit ananiyah (individualisme) sehingga mereka senantiasa mengalami kekalahan. Karena kekalahan kaum muslimin inilah akhirnya timbul berbagai macam krisis sebagaimana disebutkan di atas.

    Oleh karena itu untuk mengatasi berbagai macam krisis tersebut muslimin harus mampu menghadapi kekuatan kafirin dan kemampuan ini hanya akan terwujud apabila muslimin bersatu dan tidak berpecah belah. Untuk mewujudkan kesatuan kaum muslimin, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk berjama’ah sebagaimana firman-Nya : “Dan berpegang teguhlah kamu semua dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah berpecah belah. (QS. Ali-Imran:103) Ketika menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir berkata : “Allah memerintahkan kaum muslimin supaya berjama’ah dan melarang mereka berpecah belah.”

    Berjama’ah ini pulalah yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hudzaifah bin Yaman ketika meminta petunjuk kepada beliau apakah yang harus dilakukan ketika menghadapi berbagai macam krisis di kalangan kaum muslimin. Beliau memberi petunjuk dengan sabdanya: “Tetaplah kamu dalam Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka”. (H.R. Bukhari, Shahih Al-Bukhari:IX/65. Muslim, Shohih Muslim:II/134-135. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah:II/475. Lafadz Bukhari)

    Hadits ini disamping memerintahkan berjama’ah juga memberi petunjuk bahwa dalam berjama’ah harus ada Imaam, tanpa Imaam tidak mungkin akan ada Al-Jama’ah.Keberadaan Imaam dalam mewujudkan kesatuan kaum muslimin adalah faktor yang paling utama dan keberadaanya di tengah-tengah kaum muslimin adalah merupakan suatu kewajiban. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Tidak halal bagi tiga orang di mana saja dipermukaan bumi ini kecuali mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin". (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Amr)

    Berkenaan dengan wajibnya mengangkat Imaam ini Imaam Al-Ghozali berkata: “Dunia dan keamanan jiwa dan harta tidak tercapai kecuali dengan adanya Imaam yang ditaati. Oleh karenanya orang mengatakan, “Agama dan Imaam adalah saudara kembar”.Dan karenanya pula orang orang mengatakan,”Agama adalah sendi dan Imaam adalah pengawal. Sesuatu yang tidak ada sendi akan hancur dan sesuatu yang tidak ada pengawal akan sia-sia”.

    Melihat pentingnya keberadaan Imaam ini maka yang pertama kali dilakukan oleh para sahabat setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah mencari pengganti beliau untuk memimpin kaum muslimin. Akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai pengganti beliau. Setelah Abu Bakar meninggal beliau digantikan oleh Umar bin Khattab, kemudian Umar digantikan oleh Utsman bin Affan, kemudian Utsman digantikan oleh Ali bin Abi Thalib

    Keempat sahabat ini telah memimpin umat Islam sesuai dengan apa yang telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh karena itu masa kepemimpinan mereka ini disebut sebagaimana KHILAFAH ‘ALAMINHAJIN NUBUWWAH (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian) dan kehidupan masyarakat muslim di bawah seorang Imaam ini disebut Al-Jama’ah.

    Dengan Al-Jama’ah inilah rahmat Islam akan dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    “Berjama’ah adalah rahmat dan berpecah belah adalah azab”. (H.R. Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278. Silsilah Ahadits shohihah No.667)

    Dengan Al-Jama’ah inilah Islam tampil dengan wajah penuh rahmat yang mengayomi seluruh umat manusia selama mereka tidak mengganggu umat Islam dalam melaksanakan Syari’at agamanya. Ibnu Ishak memceritakan bahwa ketika delegasi kristen dari Najran yang hendak menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah hendak bersembayang dan mereka tidak mendapati satupun gereja di kota itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersilakan mereka sembayang di masjid hingga selesai. Setelah Abu Bakar dibai’at sebagai khalifah, maka salah satu intruksi harian yang beliau sampaikan kepada pemimpin pasukan yang akan berangkat ke Syam, Yazid bin Abu Sofyan adalah agar orang-orang yang tekun beribadah di dalam biara-biara tidak diganggu. Ketika Yerusalem takluk tahun 637 M dan Khalifah Umar memasuki gereja makam suci Sofronius patriakh gereja ortodoks, mempersilakan Umar shalat di dalam gereja tersebut tetapi Umar menolak seraya berkata,” Jika saya shalat di sini, maka pengikut-pengikut saya akan menganggap hal itu sebagai alasan untuk mengambil tempat ini dari tangan orang-orang kristen”. Penghormatan kaum muslimin terhadap seluruh umat manusia tanpa memandang agama inilah yang menyebabkan ke manapun perginya, pasukan Islam disambut sebagai tentara pembebas dan memperlakukan manusia lain yang tidak memusuhinya dengan penuh rahmat, kebesaran hati dan penuh kebaikan.

    Namun apabila mereka memusuhi kaum muslimin maka kaum muslimin wajib membela diri dengan syarat tidak berlebih-lebihan. Firman Allah :
    “Maka barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia seimbang dengan serangannya terhadapmu dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang yang bertaqwa”. (Q.S. Al-Baqarah : 194)

    Demikian sebagian gambaran rahmat Islam yang telah diwujudkan oleh kaum muslim di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masa Khulafa Al-Rasyidin al-Mahdiyyin. Oleh karena itu menetapi Al-Jama’ah dan menegakkan kembali Sistem Khilafah adalah suatu kaharusan apabila umat Islam berkeinginan mewujudkan rahmat Islam diseluruh permukaan bumi ini.

    Berdasarkan Nubuwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekarang inilah - setelah runtuhnya Mulkan Utsmaniyyah di Turki waktunya - seluruh kaum Muslimin kembali kepada sistem Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Adalah masa kenabian ada di tengah-tengah kamu, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya ketika menghendakinya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya ketika menghendakinya. Kemudian adalah masa kerajaan yang menggigit, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya ketika menghendakinya. Kemudian adalah masa kerajaan yaang menyombong, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya ketika menghendakinya. Kemudian adalah masa khilafah yang mengikuti jejak kenabiaan, kemudian beliau diamI". ( H.R. Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/273. Al-Baihaqi, Miskatul Mashobih hal.461. Lafadz Ahmad).

    Setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyah kaum musluimin berusaha mengembalikan sistem khilafah seperti yang pernah ada dengan berbagai upaya antara lain dengan menyelenggarakan berbagai kongres seperti kongres Khilafah di Kairo tahun 1926, Kongres Muslim Dunia di Makkah tahun 1926, Kongres Islam Internasional II di Karaci. Namun usaha ini selalu mengalami kegagalan disebabkan khilafah dianggap masalah politik bukan semata-mata masalah dien (agama).

    Setelah masalah Khilafah didudukan kepada proporsi yang sebenarnya dimana Khilafah semata-mata dipandang sebagai masalah agama, bersih dari unsur politik (non politik); dengan taqdir Allah khilafah berhasil dikembalikan ditengah-tengah kaum muslimin dengan dibaiatnya Wali Al-Fattaah sebagai Imaamul Muslimin pada tanggal 10 Dzulhijjah 1372 H/ 20 Agustus 1953 M. Bersamaan dengan pembaiatan ini ditetapkan pula langkah-langkah strategis kaum muslim dalam menghadapi gejolak dunia sebagai berikut :

    1. Pandangan, pendirian dan sikap hidup muslim : Yakni bahwa berpegang teguh dan saat melaksanakan pedoman Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber segala kejayaan dan kebahagian. 2. Ukhuwah Islamiyyah : Kesatuan bulat bagi seluruh Muslimin yang tidak dapat dibagi-bagi, dipisah-pisah apalagi diadu domba, baik dalam kemudahanan atau dalam kesukaran dan dalam perjuangan. 3. Kemasyarakatan : Berpihak kepada yang dhaif (lemah, tertindas, dan teraniaya). 4. Sikap terhadap lain golongan : Tegak berdiri dalam lingkungan kaum muslimin, di tengah antar golongan, menyeru kepada kebaikan menyuruh kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. 5. Antara bangsa-bangsa : Menolak fitnah penjajahan dan kedzaliman suatu bangsa atas bangsa lain dan mengusahakan ta’ruf antara bangsa-bangsa.

    Setelah Imaam Wali Al-Fattaah wafat pada hari Jum’at, 27 Dzulqo’dah 1396 H/19 November 1976 M, dibaiatlah Muhyiddin Hamidy menggantikan beliau sebagai Imaamul muslimin hingga sekarang ini. -- Wallahu a’lam bishawwab. - ap

  • Sudah Saatnya Muslimin Bersatu dengan Khiththah Kenabian

  • (Author: KH. Abul Hidayat Saerodjie)
  • Kebenaran firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (surat Al-Anfal 73) dengan sangat jelas dibuktikan dalam panggung sejarah hari ini. Muslimin yang terpecah belah mengalami keterpurukan, bahkan di sana sini berada pada posisi yang sangat memprihatinkan, tertindas, terdzalimi, atau ‘terjajah’.

    Ketidak berdayaan ummat Islam di semua lini kehidupan padahal hidup di negeri-negeri yang dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah, ibarat tumpeng yang dikepung oleh orang-orang rakus dan lapar. Muslimin dijadikan bahan rebutan untuk dikuras kekayaannya, padahal jumlah ummat Islam lebih dari satu milyar, punya ahli-ahli nuklir, pakar-pakar ekonomi, para jenderal ahli strategi perang. Tetapi tindakan sewenang-wenang Zionis, Amerika dan sekutunya yang membunuhi ummat Islam di Palestina, Afghanistan dan Iraq hanya dihadapi dengan diam melompong, mengelus dada, sedih, pilu, dan meratap!.

    Keadaan sebaliknya justru diperlihatkan orang-orang kafir yang dengan kompak membangun konspirasi global (persekongkolan iinternasional). Mereka tak henti-hentinya menentang dan menindas kaum muslimin, baik secara terbuka maupun tersembunyi. Lewat strategi operasi intelijen “False Flag” atau ‘bombing carpet’, kaum kufar berhasil menguasai opini dunia dan menyudutkan ‘musuh-musuhnya’ (ZA. Maulani Syndicated Features 8/03). Kejadian-kejadian misterius di sekitar kita, mulai runtuhnya gedung kembar WTC di New York hingga rentetan bom yang meledak di Bali, Philipina, Jakarta, dan tempat-tempat lainnya, disinyalir merupakan bagian dari operasi intelijen tingkat tinggi “False Flag” dengan sasaran tertuduhnya Islam dan muslimin!.

    Secara simultan “stigma labelling terroris” dilancarkan dengan sistematis untuk memperoleh keuntungan ganda dalam memojokkan lawan dan membenarkan tindakan ‘bar-bar’ yang dilakukannya di mata dunia.

    Hanya dengan memberikan alasan melindungi tokoh Al-Qaida, Afghanistan di curahi dengan bom karpet dan Taliban pun digulung habis. Lalu dengan label memiliki senjata pemusnah massal, Iraq di hantam dengan curahan bom yang sama, kini Iran mulai di utak-atik dengan “label” mengembangkan senjata nuklir dan Indonesia pun tidak luput diberi label “sarang teroris”.

    Dengan alasan yang dibuat-buat tanpa kebenaran sedikitpun, bahkan ditentang manusia sejagad, orang-orang kafir secara angkuh melakukan invasi ke negara-negara muslim berdaulat (Afghanistan dan Iraq). Tudingan sebutan teroris, ekstrim, kejam, pelanggar HAM dan sebagainya, justru dipraktekkan dan dipertontonkan secara terang-terangan ke hadapan masyarakat dunia tanpa dapat dicegah.

    Pertanyaannya mengapa bisa terjadi seperti itu?, apakah hal ini akan tetap terus terjadi?, mari kita sejenak tafakur dan merenung. Mungkin ada sesuatu yang tidak beres pada kita sebagai ummat Islam atau ada yang salah dari langkah-langkah kita selama ini.

  • Kesesatan Teori Evolusi


    Selama berabad-abad masyarakat telah mengenal teori evolusi sebagai sebuah

    proses kebetulan yg menghadirkan berbagai makhluk ‘modern’ yg ada saat ini termasuk manusia sendiri. Siapapun yg berfikir tentang bagaimana makhluk hidup ada dibumi pasti akan berfikir tentang teori evolusi walau hanya sekilas.

    Teori Evolusi telah mendapatkan tempatnya pada dunia sains sebagai sebuah teori yg menjawab persolan tentang terbentuknya makhluk hidup. Selama satu setengah abad (mungkin hingga sekarang) teori evolusi menerima dukungan luas dari masyarakat ilmiah. Ilmu biologi diterangkan dalam konsep-konsep Darwinis. Itulah penyebabnya mengapa teori evolusi ini dengan mudah dapat diterima masyarakat, karena mereka beranggapan teori ini sangat ilmiah. Dengan didukung oleh oleh temuan-temuan fosil purba, ilmu sains seolah menerangkan teori evolusi.

    Namun temuan-temuan terakhir justru bertentangan dengan teori ini. Dan semakin terbukanya ilmu pengetahuan modern, semakin terbuka pula kesalahan-kesalahan dalam teori evolusi. Berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti paleontologi, biokimia, genetika populasi, anatomi perbandingan dan biofisika, menunjukkan bahwa proses alamiah dan kebetulan tidak bisa menjelaskan asal-usul kehidupan, sebagaimana yang diutarakan teori evolusi.

    Orang pertama yang mempelajari masalah evolusi secara mendalam - sebuah gagasan yang berasal dari bangsa Yunani Kuno - adalah biologiwan Prancis, Jean Baptist Lamarck. Teori Lamarck, yang dikemukakan di awal abad ke-19, menyebutkan bahwa "makhluk hidup mewariskan sifat-sifat yang mereka peroleh selama hidup ke generasi berikutnya". Misalnya, dalam pandangan Lamarck, jerapah telah berevolusi dari binatang sejenis kijang yang memanjangkan leher terus-menerus saat berusaha mendapatkan makanan di dahan pohon yang lebih tinggi. Namun, kemunculan ilmu genetika telah menguburkan teori Lamarck sekali dan untuk selamanya.

    Kita mengenal Charles Darwin sebagai pencetus teori ini. Darwin mendasarkan teorinya pada pengamatan yg dilakukannya diatas kapal H.M.S Beagle, yang berlayar pada akhir 1831 dalam perjalanan resmi lima tahun keliling dunia. Darwin sangat terpengaruh pada keberagaman jenis binatang, terutama burung. Ia melihat begitu banyak burung dengan bentuk paruh yg beragam. Perbedaan pada paruh burung-burung ini, menurut Darwin adalah sebagai hasil dari penyesuaian diri terhadap lingkungan mereka yang berbeda. Setelah pelayarannya, dia mengamati banyak hewan dan pengamatannya ini memberi andil dalam perumusan teorinya. Pada tahun 1859, Darwin mepublikasikan pandangannya dalam bukunya The Origin of Species (Asal mula Spesies). Dalam buku ini dia merumuskan bahwa semua spesies berasal dari satu jenis, berevolusi dari satu jenis ke jenis yang lain sejalan dengan waktu melalui perubahan-perubahan kecil.

    Ketika Darwin mengemukakan teorinya, para ahli paleontologi adalah yang paling menentangnya. Mereka tau bahwa bentuk-bentuk peralihan yang menurut pandangan Darwin pernah ada, kenyataannya tidak pernah ditemukan. Darwin berharap permasalahan ini akan terjawab dengan penemuan-penemuan fosil baru. Akan tetapi, ilmu paleontologi malah semakin menggugurkan teori Darwin hari ke-hari.

    Akibat keterbelakangan ilmu pengetahuan saat Darwin mengemukakan teorinya, dia tidak bisa menjelaskan mengapa kekebalan bakteri terhadap antibiotik tidak termasuk peristiwa evolusi. Apa yg terjadi pada struktur sel saat hewan berevolusi . dan tidak mungkin kebenaran teori ini jika Darwin melakukan pengamatan dengan sebuah mikroskop sederhana yg tidak dapat melihat struktur sel hewan. Berbagai penemuan fosil-fosil juga membuktikan ketidak-absahan teori ini.

    Kita sebagai umat muslim seharusnya tau tanpa dibuktikan bahwa teori evolusi sangat tidak benar. Karena Allah swt. dalam Al-Quran menyebukan bahwa semua makhluk hidup tidak melalui proses evolusi, namun terjadi karena penciptaan oleh Yang Mahakuasa Allah swt.

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An'aam, 6: 73)

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16: 40)

    Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. (QS. Al Mu'min, 40: 68)

    Seperti kita ketahui, lebah mengumpulkan serbuk sari dan menghasilkan madu dengan cara mencampur serbuk sari dengan cairan dari tubuhnya. Untuk menyimpan madu dan membesarkan anak-anaknya, lebah membentuk sel-sel lilin heksagonal (segi enam) yang semuanya amatlah teratur, bersudut sama, dan secara umum sama sebangun. Lebah membangun sarang madu dengan sel-sel itu. Lebih jauh, lebah yang meninggalkan sarang mencari makan dan selalu kembali ke sana memiliki sistem khusus yang diciptakan Allah sehingga dapat menemukan jalan pulang.

    Bagi seekor serangga, mengetahui besarnya sudut astakona, menemukan resep lilin dan merancang sistem yang diperlukan untuk menghasilkannya dalam tubuhnya, dan memasukkan keterangan itu ke dalam DNA-nya sendiri sehingga anggota sejenisnya di masa depan memiliki kemampuan yang sama, sudah pasti tidak mungkin.

    Sudah sendirinya terbukti bahwa lebah telah diajarkan semua hal itu oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pengetahuan semacam itu telah diilhamkan dalam dirinya, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran

    Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlan jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16: 68-69).

    Allah, Yang Maha Mengetahui, menjabarkan kepada lebah apa yang harus dikerjakannya, dan lebah bertindak dalam sepenuhnya penerangan ilham itu. Perilaku sadar sedemikian merupakan bukti nyata penciptaan.

    Penelitian sifat-sifat serupa pada hewan mengungkapkan rancangan tanpa cacat dan kesadaran lebih tinggi yang melekat pada makhluk hidup. Hal-hal seperti itu menyempatkan orang sekali lagi mengerti kekuatan Allah yang tak tertandingi. Dia memiliki daya menciptakan makhluk apa pun yang Dia kehendaki dan dengan sifat-sifat apa pun yang Dia kehendaki, memiliki kekuatan tak berbatas, dan Penguasa segala sesuatu.

    Akan tetapi, kaum evolusionis percaya bahwa sifat-sifat luar biasa makhluk hidup muncul tanpa disengaja. Menurut pernyataan tak masuk akal ini, lebah belajar menghitung sudut dan berhasil menularkan pengetahuannya kepada lebah lain secara tidak disengaja atau kebetulan. Ketidaksengajaan juga mendorong munculnya sistem tubuh yang menghasilkan lilin dan madu.

    Sekadar renungan beberapa detik saja sudah cukup untuk melihat bahwa jalan cerita khayal seperti itu adalah jauh dari nalar dan ilmu pengetahuan. Allah menciptakan lebah dan memberinya kesadaran. Keajaiban penciptaan serupa itu menempatkan kaum evolusionis ke dalam sebuah kesulitan tanpa jalan keluar.

    Subhanallah….

    Pernyataan

    Aku minta maaf, aku memang terlalu naif dan egois. Maafkan sifat tempramen dan tidak mau mengalah yang aku punya. Aku cuma tak ingin terlihat lemah di depanmu. Tapi aku salah. Sikap itulah sebenarnya menjadi titik lemah dari ku. Mungkin bukan cuma itu. Masih ada lagi yang belum aku tahu dan belum aku sadari. Butuh waktu agar aku bisa menjadi laki-laki yang betul-betul dewasa. Maaf aku belum mampu mengerti akan dirimu.

    Dan akhirnya harus aku katakan. Ku ingin kau bisa lebih berbahagia tanpaku. Dan aku akan mencoba tetap tenang tanpamu.

    Semoga nanti kita bisa dipertemukan dikeadaan yang lebih baik.

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ
    عَلاَّمُ الْغُيُوبُ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنْ هَذَا الأَمْرَ
    خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ
    مولياساري بنت بختيارساڠڬالاڠي
    فَاقْدُرْهُ لِيْ
    وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ
    مولياساري بنت بختيارساڠڬالاڠي
    فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ