Bagi banyak orang kegagalan adalah sesuatu yg buruk. Apakah betul begitu? Untuk pikiran yang dangkal, hal itu memang betul. Namun apabila kita memikirkannya lebih dalam lagi, kegagalan tidak selamanya merupakan bencana. Bisa jadi, dengan kegagalan Tuhan mengingatkan kita bahwa kapasitas kita belum cukup untuk menerima kesuksesan. Barangkali Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari, yang mana kalau kita sukses padahal kemampuan kita masih dangkal, kita akan terjatuh lebih dalam lagi. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli investasi dari Amerika bahwa ‘orang bodoh dengan uang banyak adalah suatu fenomena yang sangat menarik’. Apakah yang akan terjadi bila orang bodoh tiba-tiba mendapatkan uang banyak? Jelas, dia akan menghabiskannya tanpa perhitungan hanya untuk barang-barang konsumtif dan kembali mengalami kesulitan keuangan karena kemungkinan besar barang-barang konsumtif tersebut akan dia beli dengan cara kredit. Apakah dia pantas disebut orang kaya? Jelas tidak, orang yang betul-betul kaya tahu betul apa yang akan dia perbuat dengan uangnya dan akan mengembangkannya lebih banyak lagi.
Poin utamanya adalah kesuksesan yang kita terima akan selalu sesuai dengan kapasitas diri kita. Jika kita menerima kesuksesan di luar kapasitas diri, malah kita akan jatuh lebih dalam dan gagal lebih parah. Maka dari itu, jangan terlalu mendramatisir kegagalan. Bisa jadi dengan kegagalan Tuhan menyelamatkan kita dari kegagalan yang lebih parah. Yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana caranya agar kita bisa berkembang secara pribadi untuk layak menjadi orang yang betul-betul sukses sehingga kesuksesan kita bisa bertahan lama dan semakin berkembangKamis, 30 September 2010
Selasa, 28 September 2010
JANGAN BERHENTI KARENA SUSAH
Apa yang menjadikan dia selalu berhenti? Sederhana, karena dia begitu akrab dengan kata susah atau sulit. Dia berkata bahwa dia sudah berusaha, tapi ternyata sulit. “Ternyata susah juga untuk membangun bisnis.” Dan berbagai komentar lainnya yang bernada sulit.
Dia meminta nasihat kepada saya. Saya berikan beberapa nasihat. Apa jawabannya? Tidak lepas dari dua kata itu:
“Susah.”
“Sulit.”
Saya mencoba untuk memberikan inspirasi yang bercerita tentang seseorang yang berhasil membangun bisnis dengan berawal 1 buah gerobak bakso menjadi ratusan gerobak bakso. Saya jelaskan kalau orang ini merangkak dari nol dan sampai akhirnya berhasil.
Apa reaksi dia? Dia berkata:
“Saya sering mendengar cerita keberhasilan. Tapi sayang tidak diceritakan susahnya membangun bisnis.”
Dia terus berkata susah, sulit, susah, sulit, tidak mudah, dan sebagainya. Banyak orang yang seperti ini!
Jika Anda termasuk orang yang seperti ini, saya mau bertanya.
“Memang susah. Memang tidak mudah. Memang sulit. Lalu?”
Sahabat, coba pikirkan. Jika bisnis itu mudah. Tentu akan banyak sekali orang yang berbisnis dan kaya raya. Pada kenyataanya memang sedikit sekali orang yang mau berbisnis dan bertahan di bisnis. Karena memang, bisnis itu susah, bisnis itu sulit, dan perlu kerja keras untuk menjalankannya. Bisnis memang hanya untuk orang yang berani, tekun, sabar, dan mau kerja keras sampai berhasil.
Sekarang, pilihan Anda. Apakah mau melewati masa susah membangun bisnis atau tidak?
Jika Anda punya kemauan, maka ambillah tindakan. Jika susah, Anda bisa belajar. Jika tidak tahu, Anda bisa mencari tahu. Jika lama, Anda bisa bersabar. Jika tidak punya modal, Anda bisa mencari modal. Jika tidak bisa mencari modal, Anda bisa belajar mencari modal. Allah sudah memberikan potensi kepada Anda. Anda punya hati, Anda punya akal, dan Anda punya energi. Gunakanlah.
Memang akan banyak menghadapi masalah. Tapi Allah sudah memberikan akal kepada kita untuk mengatasi masalah. Memang perlu kerja keras, tapi Allah sudah memberikan tangan dan kaki kepada kita untuk bekerja keras. Allah sudah memberikan sistem pencernaan yang bisa mengubah makanan menjadi energi. Apa lagi yang kurang?
Sahabat, jangan berhenti karena susah. Kita sudah diberik potensi yang dahsyat oleh Allah untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi. Kesulitan memang untuk kita hadapi, untuk kita lewati, sebab kemudahan akan datang setelah kesulitan.
“Kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.” (HR Ahmad)
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Alam Nasyrah:5-6)
Sahabat, semua orang sukses pernah mengalami masa-masa susah. Mereka menghadapi kesulitan seperti kita. Hanya saja, mereka tidak berhenti. Oleh karena itu, kita pun sama, jangan berhenti karena susah.
Selasa, 31 Agustus 2010
TIDAK ADA ALASAN UNTUK MENYERAH
Ya benar, tidak ada alasan untuk menyerah. Yang dimaksud menyerah bukan hanya menyerah saat kita mendapatkan kesulitan saja, tetapi menyerah menggapai apa yang kita cita-citakan. Banyak orang, yang ingin mencapai sesuatu, memiliki sesuatu, dan melakukan sesuatu, kemudian dia berhenti karena merasa tidak sanggup, itu pun sama dengan menyerah.
Begitu juga, saat kita sedang menghadapi masalah besar. Tidak ada alasan untuk menyerah. Tidak ada alasan untuk tetap terpaku dan tidak peduli apa yang akan terjadi.
Silahkan lanjutkan membaca, akan saya tunjukan bahwa tidak ada alasan untuk menyerah.
Tidak Perlu Menyerah: Karena Kita Pasti Sanggup
Sebesar apa pun masalah yang menimpa kita, insya Allah kita akan sanggup, sebab Allah tidak akan membebani kita di luar kesanggupan kita.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al Baqarah:286)
Saat kita melihat masalah begitu besarnya, itu artinya ada yang salah dengan diri kita. Tetaplah berlajar, bertanya, dan mintalah bantuan. Meminta bantuan tidak mengapa, yang penting jangan terus menggantungkan diri kepada orang lain.
Mengapa Menyerah? Bukankah Allah Mahakuasa?
Sebesar apa pun masalah kita. Sebesar apa pun tujuan kita. Semua kecil bagi Allah. Mengapa kita tidak meminta tolong kepada Allah? Banyak cara untuk mendapatkan pertolongan Allah:
Berdo’a
Tiada seorang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR. Ath-Thabrani)
Sabar dan Shalat
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. (QS Al Baqarah: 45)
Menolong Agama Allah
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad:7)
Dan masih banyak yang lainnya. Silahkan buka Al Quran dan Hadits, dimana kita bisa membaca bahwa Allah membuka lebar pintu pertolongan bagi hamba-Nya.
Tidak Perlu Menyerah: Mengatasi Masalah Dengan Apa Yang Ada
Apa pun yang Anda miliki saat ini, sudah cukup dan bisa dijadikan modal untuk mengatasi masalah Anda dan mencapai tujuan Anda. Selengkapnya bisa dibaca pada artikel Mengatasi Masalah Dengan Apa Yang Ada.
Tidak Perlu Menyerah: Itu Ujian Dari Allah
Semua kesulitan itu adalah ujian dari Allah. Selanjutnya, apakah kita mau bersabar atau menyerah? Jika kita bersabar dan ikhlas, insya Allah semuanya tidak akan sia-sia. Sebaliknya jika kita menyerah atau berputus asa, kita akan berdosa.
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)
Apa yang dibahas disini hanya baru sebagian kecil dari alasan agar tidak menyerah. Masih banyak lagi yang lainnya. Dari yang sedikit ini saja, insya Allah kita bisa melihat bahwa bagi kita orang yang beriman dan masih mau berusaha, tidak ada alasan untuk menyerah.
Senin, 23 Agustus 2010
Belajar Dari Filosofi Lilin
Selama ini sebagian besar orang memahami lilin sebagai simbol filosofi hidup yang sia-sia. Hanya bisa menerangi sementara dirinya sendiri hancur. Lalu muncul statement jangan hidup seperti lilin. Aku mungkin salah satu dari sebagian kecil orang yang mencoba memahami filosofi lilin dengan perspektif yang berbeda. Lilin, ketika dirinya sendiri meleleh habis terbakar setelah memancarkan cahaya menerangi kegelapan, sesungguhnya apa yang terjadi bukanlah suatu kehancuran. Melelehnya lilin itu pada hakikatnya adalah simbolisasi penyatuan jatidiri dengan pancaran cahaya yang keluar dari api yang membakar dirinya sendiri, itulah yang disebut sebagai puncak dari suatu hikmat pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Hanya mereka yang mau berkorban dengan tulus tanpa pamrih seperti lilin yang akan berhasil mencapai puncak kesadaran kosmik (pencerahan), suatu konsepsi kesadaran yang dibutuhkan sebagai tiket menuju puncak kebahagiaan yang dicita-citakan oleh semua ummat manusia dan bangsa-bangsa di dunia. Manusia dalam kondisi kesadaran seperti inilah yang tercerahkan dan mampu mencerahkan kehidupan. Menjadi pemimpin yang adil, pejabat yang taat hukum dan tidak korupsi, ayah yang bijak, ibu yang penuh cinta dan kasih, anak yang sholeh dan hormat pada orang tua, murid yang santun, dan seterusnya. Belajarlah hidup seperti lilin, menerangi kegelapan dan berkorban dengan tulus tanpa pamrih.
Senin, 16 Agustus 2010
“Sudah Merdekakah Indonesia?”
Adalah kebanggaan, pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa kita telah memproklamasikan kemerdekaannya. Sebuah akibat dari pengorbanan yang luar biasa atas perjuangan bangsa merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan juga sebuah sebab hingga sampai saat ini bangsa kita terus berjuang mengisi kemerdekaan. Enam puluh tiga tahun sudah kita mengisi kemerdekaan, namun apa benar kita sudah merdeka? Ketergantungan kita pada kekuatan asing sesungguhnya menandakan ketidak mandirian kita dan masih berlangsungnya penjajahan di negeri tercinta ini.
Adakah perbedaan keadaan bangsa kita sebelum dan sesudah proklamasi? Pinjaman dari IMF dan World Bank sesungguhnya telah menjerumuskan kita pada lilitan hutang yang tiada henti, sekaligus menambah malnutrisi serta memperluas kesengsaraan. Harga minyak yang melonjak tajam membuat antrian panjang “manusia berjerigen” di berbagai tempat. Angka kemiskinan masih bertengger di papan atas klasemen permasalahan bangsa. Lalu, adakah perbedaan? Tidak lebih dari perbedaan format belaka, yang asalnya penjajahan secara fisik dan militer menjadi penjajahan kontrol jarak jauh secara ekonomi.
Inilah pengulangan sejarah bagi bangsa yang gagal belajar darinya. Sampai tahun 2036, Exxon Mobil akan mengendalikan pengoprasian Blok Cepu. Freeport akan terus menguras kekayaan alam Indonesia di Papua hingga 2041. Penjajahan akan sumber daya alam yang luar biasa, lebih dari apa yang dilakukan VOC! Dalam sebuah bukunya Amien Rais mengatakan bahwa muatan laut Indonesia sebesar 46,8% dikuasai oleh kapal asing, lebih dari 50% perbankan nasional dikuasai asing, telekomunikasi dikendalikan asing (Indosat dimiliki Temasek Singapura, 35% sahan Telkom, dan 98% saham XL juga milik asing), tak lupa Satelit Palapa (pulau milik Indonesia di angkasa) sudah jatuh ke tangan Temasek Singapura. Inilah bentuk penjajahan masa kini yang terprogram untuk menyengsarakan rakyat.
Semua ini tidak akan terjadi bila kita mempunyai kekuatan hukum untuk menjadi bangsa yang “merdeka”. Namun tidak demikian, seperti yang dikatakan oleh Revrisond Baswir bahwa banyak Undang-undang di negara kita merupakan pesanan kartel neokolonial. Undang-undang No. 25/2007 tentang penanaman modal, Peraturan Pemerintah No.76/2007, serta Peraturan Pemerintah No. 77/2007 yang menyebutkan batas kepemilikan modal asing mencapai 95%, seolah mempromosikan “Indonesia for Sale” di mata dunia. Dan lagi-lagi Amien Rais menyebutkan bahwa pemerintah telah membuatkan jalan tol nan mulus bagi korporasi-korporasi asing untuk menguasai perekonomian Indonesia.
Indonesia masih belum bisa mandiri mengurus keperluannya, kekuatan asing begitu kental dalam menentukan nasib bangsa, hingga Undang-undang pun bisa didikte oleh kehendak asing. Inikah Indonesia yang merdeka? Tidak! Ini adalah Indonesia yang masih terjajah bukan karena kekuatan fisik dan militer, namun oleh kontrol yang menjadikan Indonesia kehilangan kedaulatannya secara ekonomi, hukum, sosial, politik. Terasalah apa yang pernah dikatakan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.
Kamis, 12 Agustus 2010
PENANGKAPAN USTADZ BA'ASYIR dan KEHANCURAN NKRI
Bulan Ramadhan 1431 H ini, kaum Muslimin Indonesia diberi “hadiah istimewa” oleh Pemerintah SBY. Kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di pasaran, teror bom gas 3 kg yang terus makan korban, dan satu lagi yaitu penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan sejumlah pemuda-pemuda Muslim yang dituduh melakukan terorisme. Senin, 9 Agustus 2010, sekitar dini hari, rombongan Ustadz Ba’asyir ditangkap Densus88 di Banjar.
Kalau setiap hari kita mengikuti omongan seputar terorisme yang keluar dari lidah Ansyad Mbai, Edward Aritonang, Bambang Hendarso, Suryadarma Nasution, Abdurrahman Assegaf, Nashir Abbas, dll. tentu kita akan meyakini, bahwa Ustadz Ba’asyir dan kawan-kawan adalah teroris; teroris ingin menghancurkan NKRI; teroris adalah musuh negara; teroris harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Kebanyakan orang awam percaya dengan opini-opini media yang dibuat-buat seperti ini.
Tetapi kalau kita kritis, bijaksana, dan mendalam ilmunya, kita pasti akan sangat sedih dengan penangkapan Ustadz Ba’asyir itu. Penangkapan tersebut akibatnya sangat berat bagi kehidupan bangsa Indonesia, bahkan bagi keutuhan NKRI sendiri. Kalau Anda memahami, penangkapan seperti itu justru akan menghancurkan bangsa kita sendiri.
Lho, kok bisa sih? Apa alasannya? Yang bener saja, masak penangkapan Ustadz Ba’asyir akan menghancurkan NKRI? Jangan-jangan, ini mengada-ada?
Benar, sungguh benar. Argumentasi pendapat di atas ada dan kuat. Hanya kita selama ini tidak memahami, maka kita hanya ikut-ikutan saja opini dan kebijakan yang ditempuh Polri. Sungguh, langkah-langkah Polri ini sangat cepat akibatnya dalam memporak-porandakan kesatuan NKRI.
Apa dong argumentasinya?
SATU: Polri selama ini mengklaim sedang memerangi terorisme, tetapi tanpa disadari cara-cara mereka justru melahirkan TERORISME baru yang sangat melemahkan kehidupan masyarakat. Polri selama ini telah melakukan 3 TEROR sekaligus: teror hukum, teror opini, dan teror psikologi masyarakat.
Coba saja Anda lihat, berapa banyak pemuda-pemuda Islam dibunuhi, ditembaki, dikepung, disiksa, dan seterusnya. Polri ingin menegakkan hukum, dengan cara melanggar hukum. Tidak ada pengadilan, tidak ada kebebasan membela diri, tidak ada transparansi, dll. Kemudian, dalam kasus terorisme ini hanya berlaku satu opini saja, yaitu opini Polri. Tidak ada opini dari tim idependen, tidak ada opini dari anggota DPR, tidak ada opini dari jurnalis, tidak ada opini dari Komnas HAM, tidak ada opini dari perwakilan Muslim, dst. Opini hanya dari polisi saja. Maka tidak salah kalau mereka dianggap menterorkan opininya ke kepala ratusan juta rakyat Indonesia, dan dunia internasional.
Semua kasus-kasus terorisme ini bukan membuat masyarakat semakin tentram, justru sebaliknya. Ketakutan, khawatir, cemas, depressi melanda dimana-mana. Inilah teror psikologi bagi masyarakat luas.
DUA, hampir semua kejadian terorisme di Indonesia sangat kuat aroma rekayasanya. Sampai ada yang mengatakan, kasus-kasus terorisme ini muncul ada jadwalnya. Bukti bahwa kasus-kasus terorisme ini hanya hasil rekayasa, ketika pengembangan isu terrisme dari satu kasus ke kasus lain cenderung sama. Modelnya sama. Mula-mula muncul kasus terorisme, lalu terjadi pengejaran, penangkapan, penggerebekan; lalu dibuat opini media secara intensif; dan herannya, ketika kasus-kasus terorisme ini dibawa ke ranah hukum, tiba-tiba kehilangan bobotnya. Seakan, Polri hanya membutuhkan kemenangan opini di tingkat media saja, dengan tidak peduli kelanjutan kasus-kasus itu secara hukum. Desain seperti ini diulang-ulang sejak jaman Imam Samudra sampai Ustadz Ba’asyir saat ini.
TIGA, fenomena terorisme di Indonesia, rata-rata dikembangkan berdasarkan tekanan asing. Bukti paling mudah untuk disebut, ketika SBY mengumumkan kematian Dul Matin di depan Parlemen Australia, lalu dia mendapat tepuk-tangan sangat meriah. Kalau SBY seorang pemimpin yang nasionalis dan punya harga diri, pasti akan malu mengumumkan aib rakyatnya sendiri di depan parlemen orang asing, di negeri mereka pula. Kesan yang bisa ditangkap disana, SBY seperti “sedang memberi laporan” kepada Australia.
EMPAT, Polri selama ini telah melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pasti sangat meresahkan masyarakat luas. Bayangkan, pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu ditembaki, disergap, dibunuh, ditangkap paksa, disiksa, dll. tanpa melalui mekanisme hukum yang wajar. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, bahwa para aparat hukum yang mengadili pelaku-pelaku yang dituduh teroris itu, mereka tidak suka dengan pembelaan dari Tim Pembela Muslim (TPM). Polri telah menyediakan pembela khusus untuk para terdakwa itu.
Kenyataan ini mencerminkan betapa bobrok-nya proses penegakan hukum. Seakan, aparat yang punya kekuatan bisa bersikap sewenang-wenang. Sementara rakyat yang tidak memiliki power, mereka menjadi bulan-bulanan. Nah, kenyataan seperti itu nanti bisa menimpa siapa saja. Siapapun yang terkena kasus hukum, bisa dimasukkan dalam mekanisme hukum yang sewenang-wenang ini. Bahkan bisa saja, seseorang dijebak agar terlibat dalam kasus tertentu, lalu diadili secara sewenang-wenang. Ini adalah mushibah hukum yang mengerikan.
LIMA, siapa bisa menjamin bahwa kasus terorisme ini akan berhenti sampai penangkapan Ustadz Ba’asyir? Siapa bisa menjamin, bahwa setelah itu tak ada kasus terorisme lagi? Bukankah Polri selalu memiliki DPO yang memperpanjang usia pengembangan isu terorisme ini? Tidak pernah ada ceritanya, Polri merasa puas dan tuntas dalam menyelesaikan kasus-kasus terorisme. Selalu saja ada “pelaku-pelaku lain yang masih DPO”. Nah, pelaku-pelaku ini nanti akan “dikumpulkan” untuk membuat kasus terorisme baru. Artinya, masyarakat Indonesia siap-siap saja bersabar menghadapi semua cobaan ini. “Kesabaran kita masih panjang, kawan. Daftar DPO masih banyak!” Tidak heran jika sebagian orang menyebut kasus-kasus seperti ini sebagai “bisnis keamanan”.
ENAM, ketika rakyat Indonesia terus ribut dengan masalah terorisme, di bagian lain kekuatan ekonomi asing terus intensif mengeruk kekayaan nasional. Sambil terkekeh-kekeh mereka ketawa, “Hi hi hi…biarin saja mereka ribut terus soal teroris. Kita tenang-tenang saja mengeruk kekayaan negeri ini. Santai saja, man. Kita aman disini. Polisi Indonesia sangat berjasa mengamankan bisnis kita. Hi hi hi…”
TUJUH, isu terorisme kerap kali menjadi “jalan keluar” ketika Pemerintah sedang terpojok. Ratusan bom gas 3 kg terus meleduk, tarif listrik naik, harga-harga kebutuhan hidup semakin mencekik. Lahirnya isu terorisme sangat efektif membuat masyarakat lupa dengan tanggung-jawab Pemerintah.
DELAPAN, sangat jelas dan jelas sekali, semua kasus-kasus terorisme ini, beserta dampak ikutannya, akan sangat mencabik-cabik persatuan nasional. Muncul rasa marah, benci, dendam, saling curiga, antipati, serta permusuhan antar sesama anak bangsa. Hal itu adalah kenyataan yang jelas. Citra Polri di mata kalangan dakwah Islam jatuh sejatuh-jatuhnya. Bagaimana bangsa Indonesia bisa stabil melakukan pembangunan, jika dalam diri bangsa ini sendiri muncul bahaya laten permusuhan horisontal?
Katanya, Polri ingin menjaga keutuhan NKRI. Tetapi nyatanya mereka justru menyebarkan bara kebencian, permusuhan, dan antipati di tubuh masyarakat luas. Lebih menyedihkan lagi, ketika Polri terbukti tidak garang ketika menghadapi koruptor, pejabat nakal, skandal nasional, konglomerat hitam, bahkan kasus-kasus mafia hukum di tubuh Polri sendiri. Polri hanya keras kepada pemuda-pemuda Islam, bukan ke koruptor dan mafia. Semua ini jelas sangat membahayakan persatuan nasional (NKRI).
SEMBILAN, satu kesalahan yang sangat fatal ketika Polri memfitnah tokoh kebaikan seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Ansyad Mbai mengatakan, 4 pemuda yang ditangkap di Bandung, ternyata terpengaruh ceramah-ceramah Ustadz Ba’asyir. Ini kan argumentasi yang sangat lucu. Jika demikian, mengapa wartawan-wartawan TV itu tidak ditangkap sekalian. Sebab mereka saban hari memprovokasi masyarakat dengan menyiarkan berita-berita kriminal. Harus dicatat, berita kriminal bisa menjadi inspirasi kejahatan juga.
Kalau di negara ini tokoh-tokoh yang baik dan konsisten dengan kebenaran, terus dihujani fitnah, lalu bagaimana bangsa ini akan selamat? Mereka akan dipimpin oleh orang-orang yang salah, zhalim, dan pendusta. Padahal kita tahu, orang-orang zhalim itu sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri. Jika demikian, NKRI jelas akan hancur. NKRI ini akan dikelola oleh orang-orang yang salah.
SEPULUH, kalau masyarakat diam saja melihat kezhaliman yang dilakukan oleh Polri, para alim-ulama juga diam, partai-partai Islam juga diam, kaum terpelajar diam juga, sementara rakyat kecil juga ikut-ikutan diam; tahukah Anda apa akibatnya jika fenomena diam diri ini telah menguasai bangsa ini? Demi Allah, bangsa ini akan diadzab oleh Allah sekeras-kerasnya, karena telah berdiam diri melihat kezhaliman di depan matanya, secara kolektif. Dalam hadits shahih disebutkan firman Allah, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, Aku menyatakan perang kepadanya.” Kalau Polri memusuhi wali-wali Allah, dan kaum Muslimin di negeri ini hanya diam saja, maka adzab itu akan menimpa kita. Dan Allah akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang istiqamah.
Terakhir, wahai bangsa Indonesia, aku ingin mengingatkanmu…
Ustadz Ba’asyir dan puluhan pemuda-pemuda Islam ditangkap karena terlibat TERORISME DI ACEH. Lalu kita mau bertanya, apakah ada kegiatan terorisme di Aceh? Apakah ada peledakan bom? Apakah ada penyerangan kantor-kantor polisi, atau kantor pemerintahan? Apakah ada korban sipil akibat serangan teroris itu?
Sungguh, kejadian di Aceh sangat berbeda dengan Ritz Carlton, JW. Marriot, Bom Bali, dll. Disana itu ada latihan-latihan kemiliteran puluhan pemuda. Mereka membawa senjata api dan sempat melakukan perlawanan ketika mereka diserang polisi. Dosa mereka secara hukum: membawa senjata api, melakukan latihan militer tanpa ijin, dan balas menyerang aparat ketika mereka disergap. Kesalahan-kesalahan seperti ini tidak seperti kasus terorisme yang sudah sering terjadi di Indonesia. Kalau ada ide ingin menyerang Presiden saat 17 Agustus, itu hanyalah klaim sepihak yang dibuat oleh Polri.
Apa yang terjadi di Aceh jauh dari kategori kejahatan terorisme yang kita kenal selama ini. Nah, mengapa kemudian pemuda-pemuda itu, bahkan Ustadz Ba’asyir dikait-kaitkan dengan perbuatan terorisme, dengan memakai UU terorisme? Coba saja Anda tanya diri sendiri:Siapa yang diteror oleh pemuda-pemuda itu? Mereka latihan di tengah hutan, jauh dari penduduk, tidak menyerang warga asing, tidak menyerang hotel, dll.
OK, kesalahan mereka karena menyimpan senjata api, melakukan latihan militer liar, dan menyerang aparat yang menyergap mereka; semua itu diadili secara hukum. Tetapi ia belum cukup diangkat sebagai kasus terorisme. Sangat berbeda antara latihan militer dengan pengeboman di JW. Marriot. Siswa-siwa bencong di acara Be A Man juga melakukan latihan-latihan militer. Ingat itu!
Ini tantangan besar bagi Muslimin Indonesia. Sanggupkah kita mengakhiri kezhaliman Polri terhadap seorang ustadz sepuh yang shalih? Kalau kita tak sanggup, persiapkan kesabaran Anda setebal-tebalnya. Ada bencana besar yang menghadang bangsa ini karena diam dirinya melihat kezhaliman.
Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.
Ibu Aisyah Baraja Bercerita Kronologis Penangkapan Ustadz Abu
Aisyah Baraja (istri ustadz Abu Bakar Ba'asyir) dan ibu Muslikhah (istri ustadz Wahyudin) yang turut dibawa ke kantor polisi di Banjar pada saat penangkapan ustadz Abu Bakar Ba'asyir bersama tujuh pria lainnya saat ini sudah tiba di rumah, di dalam komplek ponpes Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo.
Kepada MuslimDaily keduanya menceritakan kronologis penangkapan, perlakuan Densus 88 terhadap ustadz Abu dan tujuh pria lainnya serta perlakuan Densus 88 terhadap ibu Aisyah Baraja dan ibu Muslikhah.
Awalnya mobil rombongan ustadz Abu dan pengawal memasuki kota Banjar pada pukul 07.30 WIB, setelah kedua mobil yang membawa ustadz Abu (kijang Krista) dan pengawal (Nissan Terrano) dipaksa masuk ke kantor polisi Banjar, langsung kedua mobil dikepung banyak anggota Densus 88 sambil menggedor-gedor mobil.
Sopir ustadz Abu bernama Sartono mengatakan kepada penumpang agar mengunci semua pintu, "Tutup pintunya umi, jangan dibuka", kata Sartono seperti ditirukan ibu Muslikhah. Kemudian Densus 88 berteriak-teriak, "buka pintu-buka pintu", karena yang didalam mobil tidak mau menyerahkan diri begitu saja maka Densus 88 mulai memecahkan kaca depan bagian kanan, juga kaca tengah bagian kanan namun kaca bagian tengah tidak sampai pecah, hanya sekedar retak-retak.
Setelah memecah kaca depan, kemudian pintu dibuka dan sopir ustadz Abu ditarik keluar dan langsung ditiarapkan, diinjak-injak dan ditendangi setelah itu baru diborgol tangannya. Begitu juga pengawal ustadz Abu yang duduk dibagian belakang, dia ditarik keluar dari jendela yang kacanya sudah dipecahkan, dan langsung ditiarapkan serta diborgol, seperti yang dijelaskan ibu Muslikhah.
Sedang proses mengeluarkan ustad Abu Bakar, seperti yang diceritakan ibu Muslikhah, ustadz dipegang tangannya oleh petugas dari Densus 88 dan ditarik keluar.
Salah seorang petugas Densus 88 kemudian menodongkan senjata laras panjang kepada ustadz Abu sambil mengatakan, "Saya tembak kamu!!"
Melihat ditodong seperti itu, ustad Abu Bakar marah dan mengejar petugas Densus 88 yang menteror beliau tadi. "Ustad Abu Bakar benar-benar marah pada saat itu," kata ibu Muslikhah.
Ba'asyir bahkan mengejar petugas Densus 88 tersebut sambil mengatakan, "Saya doakan kamu dilaknat sama Allah, saya doakan polisi dilaknat sama Allah!!" setelah itu petugas lain memegangi ustad Abu Bakar yang sudah sepuh ini agar tidak mengejar petugas yang menodongkan senjatanya tadi.
"Saya baru kali ini melihat ustadz Abu Bakar benar-benar marah," kata ibu Muslikhah.
Menurut Umi Icun (sapaan akrab Aisyah Baraja) itulah saat beliau terakhir bertemu ustadz Abu Bakar, beliau kemudian menghampiri suaminya dan bersalaman, disini ustadz Abu Bakar Ba'ayir mengatakan kepada istrinya agar bersabar. Setelah itu ustad Abu dibawa ke mobil minibus yang berisi petugas Densus 88 dan dibawa pergi.
Kemudian Umi Icun dan ibu Muslikhah dibawa ke dalam kantor polisi Banjar tersebut. Mereka dimasukkan kedalam ruang tamu dan dimintai identitas diri. Ibu Muslikhah sempat berdialog dengan polwan yang memintainya keterangan, "Mbaknya ini Muslim kan?" lalu dijawab oleh polwan tersebut, "iya, saya Muslim bu," kemudian ibu Muslikhah melanjutkan, "seharusnya mbak ini tahu siapa itu ustadz Abu, ustadz itu seorang mubaligh. Beliau bukan perampok, beliau bukan penjahat, beliau bukan koruptor, kenapa ditangkap dengan cara kasar seperti ini?"
Memperoleh pertanyaan yang bertubi-tubi, si polwan hanya diam saja.
Mereka berdua akhirnya hanya duduk di ruang tamu tersebut. Menjelang siang hari, ibu Muslikhah mendengar dari ruang sebelah siaran TV One yang berisi wawancara dengan Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki, ustadz Wahyudin (suami ibu Muslikhah), kemudian ibu Muslikhah dan Umi Icun masuk ke ruang sebelah dan ikut menonton televisi. Ibu Muslikhah mengatakan, "itu suami saya yang di tv, saya mau mendengarkan dulu sebentar," serunya.
Keduanya pun berdua duduk untuk menyimak berita di tv. Tak berselang lama, tiba-tiba listrik dimatikan agar mereka tidak mendapat akses informasi.
Kemudian keduanya memilih kembali ke ruang tamu sambil menunggu proses selanjutnya. Sekitar pukul 15.00 WIB, umi Icun dan ibu Muslikhah kemudian diperbolehkan pulang, lalu mereka memilih diantarkan ke sebuah pondok di Ciamis, Ponpes Nurus Salam.
Dan dari ponpes tersebut, malamnya selepas sholat Isya', mereka berdua diantar pulang ke Solo oleh pengurus JAT Jawa Barat, ustadz Yoyok. Sekitar pukul 05.00 WIB selepas Subuh mereka sampai ke pondok Ngruki dan pulang ke rumah di dalam kompleks pondok tersebut.
Semoga Allah memberikan ketabahan kepada Ustadz, Abu Bakar Ba'asyir dan keluarganya serta ketabahan kepada para pemuda yang turut ditangkap Densus 88.